Pemerintah Indonesia Upayakan Investasi Merasa di Luar Pulau Jawa

   

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah mempublikasikan data realisasi investasi sepanjang periode April-Juni tahun 2021. Data tersebut menunjukkan realisasi investasi yang mencapai Rp 223.0 triliun. Secara kumulatif, realisasi investasi Indonesia sepanjang periode Januari-Juni tahun 2021 mencapai Rp 442.8 triliun.

Pulau Jawa dihuni oleh 56% total penduduk Indonesia. Lebih dari setengah penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Tidak mengejutkan jika sejauh ini mayoritas dari upaya perbaikan ekonomi dan pembangunan negara berfokus di Pulau Jawa.

Selama ini, investasi di Indonesia cenderung Jawa sentris. Investasi yang cenderung Jawa sentris, realisasi investasi asing maupun dalam negeri lebih banyak dilakukan di Pulau Jawa. Hal ini menyebabkan pemerataan ekonomi di Indonesia belum berjalan dengan baik, sehingga pada akhirnya berdampak pada perekonomian negara. Pemerataan ekonomi nasional penting dikejar untuk menghindari masalah di kemudian hari.

Transformasi Ekonomi dengan Prioritaskan Sistem Investasi

Mendukung peningkatan investasi asing dan dalam negeri di Indonesia dilakukan dengan membuat reformasi sistem perizinan usaha di Indonesia. Tidak hanya untuk meningkatkan investasi asing, namun juga investasi dalam negeri. Pemerintah memastikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam proyek-proyek investasi. Hal tersebut dilakukan dengan mempermudah sistem perizinan berusaha.

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa arah kebijakan Pemerintah dalam memprioritaskan sektor investasi kini mengacu pada transformasi ekonomi. Transformasi ekonomi berkaitan erat dengan nilai tambah yang berorientasi dari hilirisasi.

Kementerian Investasi/BKPM telah merumuskan 5 (lima) sektor yang menjadi fokus investasi Pemerintah. Kelima sektor yang menjadi prioritas adalah sektor kesehatan, sektor otomotif, sektor pertambangan, infrastruktur, dan energi baru terbarukan (EBT).

Upaya Pemerataan Investasi Luar Pulau Jawa

Pemerintah Indonesia optimistis bahwa Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan memiliki potensi yang tinggi. Ketiga daerah tersebut perlu tetap dioptimalkan agar dapat menjadi tujuan investasi yang menjanjikan. Keunggulan dari daerah-daerah ini adalah luas lahannya. Misalnya, Kalimantan yang luas wilayahnya hampir tiga kali lipat dari Jawa. Selain itu, terdapat pula sumber daya alam berupa pertambangan di Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

Mendukung target Pemerintah untuk meratakan investasi di Indonesia, Kementerian Investasi/BKPM menjalankan 4 (empat) strategi untuk meningkatkan iklim investasi di luar Pulau Jawa. Pertama, sejalan dengan masifnya rencana pembangunan infrastruktur adalah pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan aksesibilitas jalan. Hal ini menjadi salah satu syarat awal investor masuk ke suatu wilayah. Kedua, insentif fiskal seperti tax allowance berupa potongan pajak penghasilan (PPh) diberikan kepada investor di bidang dan daerah-daerah tertentu. Ketiga, pendekatan dengan investor untuk merealisasikan daftar positif dan prioritas investasi (DPI) dengan potensi di masing-masing daerah di luar Pulau Jawa. DPI juga mengatur lebih lanjut kewajiban kemitraan investor dan UMKM agar dapat meningkatkan ekonomi setempat. Keempat, implementasi Peraturan Pemerintah (PP) terkait kemudahan mendirikan usaha di daerah yang merupakan tujuan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Roda perekonomian Indonesia selama ini didominasi Pulau Jawa karena beberapa alasan. Salah satunya adalah karena industri besar di Indonesia sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Lebih dari 52% industri pengolahan masih terdapat di Pulau Jawa. Padahal, terdapat potensi besar dari daerah lain seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Sumber daya melimpah yang dimiliki Sumatra dan Kalimantan harusnya mampu memberikan dorongan bagi sektor industri untuk tumbuh dan berkembang.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak berjalan tanpa hasil. Capaian total realisasi investasi PMA PMDN Triwulan II di luar Pulau Jawa sebesar 51.0% pada tahun 2020. Jika diakumulasikan, capaian realisasi investasi pada semester I tahun 2021 di luar Pulau Jawa mencapai 51.5%. Hal ini menunjukkan upaya Presiden Jokowi untuk meyakinkan investor berinvestasi di luar Pulau Jawa membuahkan hasil yang positif. Mayoritas investasi yang terjadi di luar Pulau Jawa adalah sektor sekunder atau industri.

Realisasi investasi berdasarkan wilayah pada periode Januari sampai dengan Juni tahun 2021 menunjukkan bahwa realisasi investasi di wilayah Jawa sebesar Rp 214.53 triliun (48.5%). Realisasi investasi di wilayah Sumatera sebesar Rp 96.28 triliun (21.7%), wilayah Sulawesi sebesar Rp 47.86 triliun (10,8%), wilayah Kalimantan sebesar Rp 35.70 triliun (8.1%), dan wilayah Maluku dan Papua dengan realisasi investasi sebesar Rp 33.59 (7.6%).

Ke depannya, Pemerintah akan terus berupaya untuk memastikan terjadinya investasi yang merata di Indonesia. Tentunya, hal tersebut akan dilakukan dengan mempromosikan kelebihan dari daerah dan wilayah masing-masing agar terlihat potensi investasinya. Meningkatkan investasi diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta terjadinya penyerapan tenaga kerja yang besar. Dengan demikian, perkembangan Indonesia dapat terjadi dengan baik dengan tetap menjaga kesejahteraan rakyatnya.