Investasi Properti Membaik Akhir 2019

   

Pengembang dan pengamat meyakini iklim investasi properti membaik memasuki pertengahan hingga penghujung tahun 2019. Kapitalisasi pasar tahun 2019 bisa mencapai total Rp 114 triliun. Anjloknya realisasi investasi pada triwulan 1-2019 dibandingkan periode sama 2018 dinilai lebih karena sikap wait and see memasuki hajatan politik pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) pada 17 April 2019.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperlihatkan bahwa realisasi investasi sektor perumahan, kawasan industri, dan gedung perkantoran pada triwulan 1-2019 anjlok sekitar 32% menjadi Rp 18,8 triliun dibandingkan periode sama 2018 sebesar Rp 27,6 triliun. Di sisi lain, kontribusi sektor perumahan, kawasan industri, dan gedung perkantoran terhadap total realisasi investasi juga menurun. Pada triwulan 1-2018, kontribusi sektor ini 14,9%, namun pada periode sama tahun ini melorot menjadi sekitar 9,7%.

Demikian rangkuman pendapat Direktur Utama PT Waskita Realty Tukijo, Chief Executive Director PT Sayana Integra Properti Nobuya Ichiki, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi, Sekjen Real Estat Indonesia (REI) DPD DKI Jakarta Arvin F Iskandar, dan pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit. Mereka diwawancarai Investor Daily secara terpisah dari Jakarta, baru-baru ini.

“Sektor properti beberapa tahun terakhir memang masih dalam fase stagnasi, salah satu faktornya bersumber dari aksi wait and see para investor terhadap tahun politik,” kata Tukijo.

Menurut Arvin, ada faktor lain di luar aspek politik yang membuat penurunan pada triwulan 1-2019. Berdasarkan survey REI terlihat bahwa perpajakan merupakan salah satu faktor besar bagi bisnis properti. “Penurunan itu terjadi karena faktor politik dan pelaporan pajak. Tengat waktu pelaporan surat pemberitahuan pajak (SPT) pribadi pada Maret, mempengaruhi investasi properti,” katanya.

Sekalipun demikian, keduanya optimistis memasuki pertengahan dan penghujung 2019, bisnis properti mulai kembali bergairah. Proses pileg dan pilpres yang damai diyakini mendorong pertumbuhan permintaan properti. “Setelah politik aman, bisnis properti bisa naik sedikit,” kata Arvin.

Terkait optimisme, Tukijo menuturkan, pihaknya menyiapkan sejumlah rencana investasi di beberapa kota. Dengan selesainya pemilu 2019, Waskita Realty melihat adanya peluang pertumbuhan yang positif di sektor properti. “Kami optimis menatap tahun 2019 menjadi salah satu tahun yang prospektif bagi industri properti,” tutur dia.

Proyek baru yang digulirkan Waskita Realty pada 2019, jelas Tukijo, di antaranya adalah proyek landed house premium Vasaka Bali dengan total nilai investasi sekitar Rp 1,1 triliun. Proyek tersebut merupakan yang pertama digulirkan Waskita Realty. “Selain itu, kami juga merencanakan untuk meluncurkan tower baru dari Solterra Place, Pejaten serta Nines Plaza & Residence di BSD,” ujarnya.

Menurut Tukijo, pihaknya juga melihat peluang pada proyek-proyek bersifat recurring income di Bandung dan Makassar. Khusus untuk segmen ini, Waskita Realty menggarapnya melalui brand Teraskita Hotel. “Sehingga produk-produk yang dihasilkan perseroan lebih terdiversifikasi dan memberikan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham,” kata dia.

Pengembang lain yang juga cukup optimistis adalah PT Sayana Integra Properti yang merupakan kolaborasi Daiwa House dan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport and Urban Development (JOIN) bersama Trivo Group. Perusahaan joint venture tersebut tengah menggarap Sakura Garden City (SGC), di Jakarta Timur yang tahap awal menelan invetasi Rp 1,8 triliun, sedangkan nilai investasi total ditaksir menyentuh Rp 10,4 triliun.

Menara pertama proyek SGC, yakni Tower Cattleya ditargetkan selesai tahun 2020. “Indonesia merupakan pasar penting bagi kami. Potensinya cukup besar, khususnya di Jakarta di mana tempat proyek pertama kami di Indonesia beroperasi, pasarnya terus bertumbuh. Kedepan kami juga akan masuk di sekitar Jakarta, seperti Bekasi atau kota-kota sekunder lainnya di luar Jabodetabek,” ujar Nobuya Ichiki.



Tunggu Momentum

Bagi Intiland, langkah menggulirkan proyek anyar pada 2019 masih menunggu momentum. Walau, Intiland berharap pasca pesta demokrasi kondisi mulai membaik pada semester 11-2019. Saat ini, Intiland memiliki sejumlah proyek yang siap digulirkan tahun 2019.

“Tahun ini kami menunggu momentum terbaik utk meluncurkan proyek baru. Dalam pipeline ada beberapa rencana pengembangan, namun masih harus melihat perkembangan pasar,” papar Theresia.

Salah satu rencana itu, tambahnya, adalah pengembangan South Quarter tahap berikutnya. Untuk nilai investasi proyek properti terpadu di Jakarta Selatan itu, Intiland mengaku masih tahap finalisasi.

Dia menilai, pemerintah sebenarnya sudah memberikan beberapa stimulus pertumbuhan. Namun, pasar ternyata masih bersikap wait and see, menunda investasi dan pembelian sambil menunggu perkembangan kondisi politik.

Menurut Panangian, setelah pileg dan pilpres yang berjalan damai, maka sektor perumahan akan mulia bangkit pada semester kedua 2019. “Kapitalisasi pasar tahun 2019 bisa mencapai total Rp 114 triliun,” tukas dia.

Menurut dia, faktor yang akan mengangkat sektor properti pada 2019 di antaranya adalah suku bunga BI Rate yang diperkirakan stabil. Hal itu mengingat pada 2018 sudah naik lima kali yakni dari 4,25% menjadi 6%. Lalu, inflasi yang tetap rendah dan stabil di bawah 4%.

“Faktor lain adalah pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang sebesar 5,17% akan meningkat menjadi 5,30% pada 2019,” ujar Panangian.

———

Sumber: Investor Daily