Lampung


lampung

Ibu Kota Propinsi : Bandar Lampung.

Batas Wilayah :

Timur: Laut Jawa.

Barat: Samudera Indonesia.

Utara: Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu.

Selatan: Selat Sunda.

Letak Geografis : 103o 40 105o 50 Bujur Timur dan 6o 45 3o 45 Lintang Selatan.

Luas Wilayah : 34.623,80 km2.

Populasi : 9.586.492 jiwa (2013).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) : Rp43,53 triliun (2012), Rp46,12 triliun (2013).

PDRB per Kapita : Rp18,26 juta (2012), Rp20,48 juta (2013)*

Ekspor : US$3,92 miliar (2013), US$3,89 miliar (2014)**

Impor : US$1,08 miliar (2013), US$1,33 miliar (2014)**

*) Katalog PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia 2009 – 2013, Badan Pusat Statistik. Tidak termasuk minyak bumi dan gas.

**) Katalog Statistik Perdagangan Luar Negeri Provinsi Lampung 2014, BPS Provinsi Lampung.

Infrastruktur :

Bandara : Bandara Pekonserai, Bandara Raden Inten II.

Jalan Raya : Jalan Negara (1.159,57 km), jalan Provinsi (1.702,81 km).

Pelabuhan : Pelabuhan Kota Agung, Pelabuhan Mesuji, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Teluk Betung, Pelabuhan Widuri, Pelabuhan Tarahan (PT. Tambang Batubara Tarahan).

Kawasan Industri : Lampung Sentosa Industrial Estate.

Transportasi Darat : N/A

Transportasi Kota : N/A

Jaringan Komunikasi (Serat Optik & Akses Data) :

Lampung menjadi bagian dari lingkar Sumatera dalam program pengembangan Nusantara Super Highway. Lingkar Sumatera memiliki panjang 9.981 km, terbentang dari kota Banda Aceh hingga Bandarlampung. Pembangunan 6 lingkar Information and Communication Technology (ICT) Nusantara Super Highway di seluruh Indonesia, dimaksudkan mempergunakan konfigurasi Palapa Ring. Palapa Ring sendiri merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone) serat optik yang diinisiasi oleh Pemerintah (Cq. Menkominfo) yang terdiri dari 35.280 km serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 km serat optik bawah tanah (inland cable) pada 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten. Di Kawasan Timur Indonesia sendiri pembangunan Palapa Ring terdiri dari submarine cable dan inland cable sepanjang 10.812 km yang menghubungkan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Pembangunan bertahap jaringan infrastruktur ICT Nasional yang berbasis optical netwrok platform yang dikenal sebagai Nusantara Super Highway tersebut dimaksudkan guna mendukung program percepatan dan perluasan pembangunan Indonesia serta mendukung tercapainya masyarakat informasi yang modern dan dapat bersaing serta berdaya guna. Diharapkan beberapa tahun mendatang seluruh sistem kabel yang sebelumnya menggunakan material tembaga, akan sepenuhnya digantikan dengan kabel serat optik. Selain itu, Pelabuhan Panjang menjadi salah satu dari 18 broadband port yang tengah dibangun oleh pemerintah. Penyediakan infrastruktur broadband dan layanan ICT di kawasan pelabuhan merupakan pondasi menuju digital modern seaport di Indonesia. Pembangunan pita lebar di kawasan ini sejalan pula dengan program pemerintah untuk mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Adapun 18 pelabuhan yang akan digelar Broadband Ports antara lain, Pelabuhan Banda Aceh, Pangkal Pinang, Kuala Tanjung, Dumai, Padang, Cilacap, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya, Maloy, Lombok, Kupang, Bitung, Ambon, Halmahera, Jayapura, dan Pelabuhan Merauke sebagai bagian dari program Maritime Logistic.*

Kelistrikan :

Total kebutuhan listrik di seluruh wilayah Sumatera adalah 8,7 GW dan pengadaan listrik sebesar 1,1 GW akan dikelola oleh PLN. Sementara sisanya, 7,6 GW akan ditangani melalui Independent Power Producer (IPP). Pemenuhan kebutuhan listrik nasional ini merupakan bagian dari rencana pengembangan dan pembangunan infrastruktur di bidang energi listrik melalui pengadaan pembangkit listrik sebesar 35 GW selama lima tahun ke depan (2015-2019). Investasi pada bidang ini tentu sangat menguntungkan mengingat biaya tenaga kerja yang kompetitif di Asia, kemitraan yang sukses antara investor dengan PLN lima tahun terakhir dan adanya dukungan Pemerintah Indonesia melalui Daftar Investasi Negara tahun 2014. Selain itu Indonesia juga didukung oleh berlimpahnya pasokan batubara, energi matahari, tenaga air dan sumber daya panas bumi.

Upah Minimum Regional : Rp1,4 juta (2014), Rp1,58 juta (2015).

Jumlah Pencari Kerja : 9.928 jiwa (2014).

*) http://www.telkom.co.id

Pemerintah Provinsi Lampung memberikan dukungan yang luas bagi tumbuhnya investasi. Salah satu bentuk nyata dari dukungan tersebut adalah dibentuknya layanan terpadu dalam konsultasi, pendampingan di lapangan dan penerbitan ijin penanaman modal (untuk saat ini penanaman modal dalam negeri) sebagai bentuk insentif non fiskal yang sangat dibutuhkan oleh investor. Alamat dan nomor telepon kantor pelayanan terpadu tersebut adalah sebagai berikut:

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPM-PPT) Provinsi Lampung

Jl. Cut Mutia No. 25, Bandar Lampung 35211

Telp. 0721 - 482768

Faks. 0721 - 482372

Kantor Gubernur Provinsi Lampung

Jl. Wolter Monginsidi No. 69, Teluk Betung, Lampung

Telp. 0721 - 481166

Faks. 0721 - 486396

Website: http://www.lampungprov.go.id

Pertanian : Jagung, kedelai, kentang, nanas, pisang, ubi jalar, dan ubi kayu.

Perkebunan : Kelapa sawit, kakao, karet, tebu, kopi, kelapa, aren, cengkeh, jambu mete, jarak, kapuk, kayu manis, kemiri, lada, nilam, pala, pinang, tembakau, vanili.

Peternakan : Sapi, babi, domba, kambing, kerbau.

Jasa : Wisata alam, wisata budaya.

Perikanan : Perikanan tangkap, budidaya jaring apung, budidaya keramba, budidaya kolam, budidaya laut, budidaya sawah, budidaya tambak.